Lidah

Pernah terlintas ke pikiran saya seperti ini: apakah Buaya merasakan makanannya wong berlumpur seperti itu pas dimakan? Apakah kambing dan sapi merasakan rumputnya? Apakah kupu-kupu bisa merasakan madu?Tentunya kita akan mengerti jika bisa mengobrol dengan hewan seperti Nabi Sulaiman AS. Tetapi anugerah yang indah diberikan kepada lidah manusia. Sebuah perangkat canggih lunak yang akan membawa manusia kepada kebaikan atau pada kesengsaraan.

Lidah secara fisik berfungsi untuk mengecap, merasakan makanan. Bagian terluar lidah adalah rasa manis dan bagian terdalamnya adalah rasa pahit. Ini mengandung makna dimana lidah manusia yang suka berkata manis di depan akan menyimpan kepahitan belakang. Kita pernah mendengar kejujuran menjadi sebuah pepatah: “terkadang jujur itu pahit”. Sebab kejujuran lebih banyak tersimpan daripada yang berani diutarakan. “Gigit lidah” istilah sehari-harinya di masyarakat untuk memendam kebenaran demi rasa aman dirinya sendiri.

Orang-orang mungkin suka yang manis-manis tapi manis itu bagi saya membosankan dan lama-lama membuat eneg. Dalam jangka panjang rasa manis juga akan menimbulkan diabetes yang membahayakan tubuh. Untuk itulah kita mesti menghindari penyakit gula di tubuh kita dengan membatasi konsumsi beras berpestisida. Justru saya mengagumi asin. Dia tidak membosankan dan membawa kita untuk selalu haus. Sumber asin berasal dari garam dan darimanakah sumber garam? Lautan yang luas.

Satu Hari Satu Juz

Kita mungkin sudah kurang waras kalau sehari tidak membaca Al Qur’an minimal satu juz. Nabi dengan beratnya selama 23 tahun menerima wahyu ini untuk umatnya dan kita bermalas-malasan untuk sekedar membacanya saja apalagi mempelajarinya. Dimanakah rasa malumu kepada beliau? 

Gemini

Anda tidak menjalankan nasib buruk sebagai gemini. Satu hal pahit yang ada di gemini: engkau bisa membantu orang tapi sulit untuk membantu diri sendiri. Engkau akan selalu mencari kembaranmu, dalam apapun dan kemudian menenggelamkan diri hingga hilang eksistensi agar dia yang tampak. Cinta gemini adalah cinta yang teramat senyap. Perpisahan bagi gemini adalah bagai lagu Goodbye Air Supply, “lebih baik aku yang terluka”. Hidup sebagai gemini punya lagu dalam kunci minor.

Barangkali engkau merasa banyak membantu orang tetapi sering dikecewakan, engkau mengantar tapi sebenarnya kau tahu akan segera ditinggal. Gemini dalam kehidupannya sering lupa dengan pertanyaan ini: “Ketika engkau membantu orang maka apakah orang itu kelak akan balik membantumu?”. Tidak, tidak… engkau tidak sedang mengharapkan timbal balik tetapi sedang berderma jangka panjang. Engkau boleh merasa sendiri tak punya teman tetapi jangan sampai membuat teman merasa tak punya dirimu.

Maka satu-satunya jalan adalah menenggelamkan diri dalam pelayanan sejati. Disinilah suatu hari ikhlas bisa benar-benar dirasakan.

degree

Humor

Humor bagi saya adalah suatu keadaan yang ditempatkan tidak pada posisinya secara positif sehingga membuat orang tertawa riang, gembira, rileks, dan santai. Ada humor yang bersifat garing, artinya dia gagal membuat orang paham atau orang yang ada di depannya tidak cukup IQ untuk memahami humor tersebut.

Manusia membutuhkan humor agar hidupnya tidak kaku. Sebab hidup ini sudah pelik dengan berbagai kerumitan di dalamnya. Ditambah lagi tidak semua keinginan manusia bisa tercapai yang tentu saja bisa membuat pikiran menjadi penuh. Humor membuat kita senantiasa luwes dan lapang dada.

Suatu hari di Tegal ada anak ABG alay yang ditilang polisi karena spionnya modif. Polisi itu menasehati agar spionnya menggunakan standar. “Spione kudu standar” Kata polisi tersebut. Dia langsung pulang ke rumah dan mengganti spionnya dengan standar motor betulan. Ya standar (stand), lalu dia menunjukan ke polisi tersebut dengan polosnya.

Mencari Tuhan

Bagaimana cara manusia mencari Tuhannya? Ini adalah sebuah garis dimana orang-orang yang percaya / mu’min / believer terpisahkan dengan orang yang tidak percaya / kafir / unbeliever. Barangkali kita sering mendengar kata kafir yang ditudingkan kepada orang lain dengan pandangan yang berbeda dengan kita. Tetapi sejatinya, untuk menjadi mu’min yang utuh kita harus mengupas kekafiran diri kita satu persatu.

Kekafiran itu hal ikhwal di dalam diri kita. Kafir sendiri itu sangat samar di hati. Seorang ulama khos pernah mengibaratkan: “Kekafiran dalam diri kita itu bagaikan semut hitam di malam hari dengan lampu yang padam. Jadi sangatlah sulit untuk dicari dan mesti sangat berhati-hati. Kemu’minan sendiri adalah proses panjang yang tanpa henti. Ada pencari yang berangkat dari percaya Tuhan itu ada kemudian membuktikannya, ada pula pencari yang berawal dari ketidakpercayaan dan diberi hidayah. Ingat, hidayah adalah hak prerogatif Allah.

Kembali ke pencarian Ketuhanan. Pencarian ketuhanan sendiri adalah suatu proses pemikiran dengan “alat” yang kemudian diharapkan akan menimbulkan “kesadaran” yang sering kita sebut “dzikr” atau dalam bahasa Jawa bisa dikatakan eling lan waspodo. Pencarian ketuhanan hakikatnya bukan mencari Tuhan dimana karena dia tak bertempat tetapi bagaimana kedudukan dia di hatimu. Primer atau sekunder? Besar atau kecil? Penting atau tidak?Dekat atau jauh?

اِذاَ اَردتَ اَنْ تَعْرِفَ قدرَكَ عِندهُ فاَنْظُرْ ماَذاَ يُقِيمكَ فيه

Artinya: Jika engkau ingin mengetahui kedudukanmu di sisi Alloh, maka perhatikan di dalam bagian apa Alloh menempatkan engkau (Menurut Kitab Hikam). sebagaimana hadits yang kurang lebih artinya seperti ini:

Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, maka hendaknya memperhatikan bagaimana kedudukan Allah dalam hatinya. Maka sesungguhnya Allah menempatkan (mendudukkan) hamba-Nya, sebagaimana hamba itu mendudukkan Allah dalam jiwanya (hatinya)” (Hadits)

Wallahu a’lam

Aku Rindu Berkarya

Saat mendengarkan lagu home karangan Michael Buble tiba-tiba aku terhenyak dengan lirik ini:

Let me go home
I’m just too far from where you are
I wanna come home
And I feel just like I’m living someone else’s life
It’s like I just stepped outside
When everything was going right
And I know just why you could not
Come along with me
‘Cause this was not your dream
But you always believed in me’

Betul, aku sudah terlalu jauh melangkah di gejolak pasar. Aku rindu berkarya, sudah lama ide-ideku menumpuk dan tidak keluar sebagai bentuk. Karya yang kumaksud adalah karya dari dalam diri ke luar bukan dari luar yang mengintervensi ke dalam diri. Dalam berkarya hendaknya hanya untuk berkarya, tidak untuk yang lain. Disitulah jiwa bening mesti berada untuk menyimak sang maha pencipta.

img_0037

“Kau dan Aku, salah satu karyaku yang terjual ke California, US”

Usiaku

Kini usiaku menginjak kepala 27
Telah hampir separuh kehidupan berjalan
Dan aku tidak hapal alqur’an barang satu juz pun apalagi ribuan haditsnya
Kelak dimanakah muka saya saat bertemu Kanjeng Nabi di akherat?
Sementara kecondonganku masih kepada harta
“Fitnah umatku adalah harta” (kata beliau)
Ada yang salah dalam hidupku

(Suara itu terus memanggilku dari kedalaman)

Manusia

​Bahwasanya pada saat wahyu pertamanya di Gua Hira, maka ketika Kanjeng nabi pulang dan gemetar, istrinya Khadijah menghiburnya: “Janganlah takut… engkau menyambung tali silaturrahmi, membantu orang yang sengsara, mengusahakan barang keperluan yang belum ada, memuliakan tamu, menolong orang yang kesusahan menegakan kebenaran…”

Hikmahnya adalah sebelum menjadi nabi, sayyidina Muhammad telah lulus menjadi manusia yang manusiawi. Engkau yang dimaksud Khadijah fisini adalah “in the past”, sudah teruji

Dan kemudian suami istri itu menemui Waraqah (anak paman khadijah) dan bercerita perihal kejadian itu. Dia pemeluk agama nabi isa yang taat dan pandai menulis bahasa ibrani tapi sudah sepuh dan buta. Kurang lebih Waraqah berkata seperti ini:

“Ini adalah namus (malaikat) yang diutus Allah kepada nabi musa. Saya berharap masih hidup ketika hari pengusiran oleh kaumu datang. Belum pernah ada orang yang mendapat wahyu dan tidak diusir oleh kaumnya. Kelak, Saat hari ini tiba saya ingin menolongmu sekuat-kuatnya”.

Lalu setelah kejadian ini Waraqah pun wafat.

Bertani Ala Islam

​Dahulu kala ada seorang petani yang alim, arif, dan ma’rifat billah. Imam al Ghazali pun sampai mengunjungi kediaman beliau. Tetapi tidak bertemu karena petani tersebut sedang di sawah menanam gandum. Santrinya buru-buru memanggilkan Petani tersebut. Lantas kedua orang alim itu saling gembira karena silaturrohim dan terlibat pembicaraan serius. Santrinya yang khawatir proses penanaman terbengkalai akhirnya menawarkan diri untuk melanjutkan tandur.
Gurunya menolak dengan halus: “nanti saya saja yang menanam”. Imam Ghazali heran, lalu bertanya di akhir kunjungannya: “Mengapa menolak santrinya yang menanam?”. Petani tersebut menjawab: “Saya kalau menanam hatinya hadir kepada Allah dengan lisan yang berdzikir pula. saya ingin makanan yang nanti dimakan banyak orang ini full of light and enlightening di dalam hati jadi saya khawatir santri saya tidak bisa hadir hatinya pada saat proses menanam”