Renung Pohon: Kedudukanmu

Dalam hutan, guru mursyidmu adalah bagaikan pohon tertinggi, kanopi dan peneduh dari cahaya langsung. Sedangkan engkau adalah semak belukar yang lemah menghadapi terik. Engkau butuh peneduh dan pelindung. Itu adalah suksesi alamiah manusia.

Engkau tak akan kuat menghadapi sinar langsung. Alqur’an dan Hadits bila tidak dipahami lewat seorang guru akan membuatmu menjadi tanaman yang hangus dan mati. Sebagaimana pesan Nabi tentang orang yang membaca Alqur’an tetapi iman mereka hanya sampai kerongkongan saja. Itu sebab mereka tak punya guru.

Renung Pohon: Iqra

Bacalah ayat Allah. Ayat artinya tanda. Semua yang ada di bumi dan dilangit baik benda maupun momentum adalah tanda keberadaannya untuk menunjukan tanda kebenaran kalamnya (Alqur’an). Orang-orang tersesat tidak akan menemukan Allah pada konteks ini sebab mereka terhijab tidak diberi cahaya. Mereka makin berilmu tetapi makin tersesat.

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (QS. Fushshilat (41): 53)
Dalam dunia belantara jangan kita tertipu fisik sebatang tanaman karena mereka punya batin, kandungan yang kasat mata. Dr. Alfan sahabat saya berkata: ada lebih dari 50 senyawa yang dikandung tanaman dan semua ada manfaatnya untuk farmasi penyembuhan.

Renung Pohon: Genetika

Keturunan suatu tanaman tidak akan melampaui sifat orang tuanya tetapi bisa lebih buruk. Begitu juga anak manusia. Seorang anak tidak akan lebih bagus dari orang tuanya maksudnya dalam hal ketaqwaan dan tingkat spiritualnya.

Kecuali orang tuanya benar-benar berupaya keras untuk mengubah diri mereka. Ada suatu hal besar yang harus didobrak setingkat mengedit DNA yakni dengan ilmu agama dan tangisan doa.

Maulid

Kuharap begini, selalu kuharap:
Aku tak bisa tidur malam sepanjang bulan maulid
Semua badanku sakit dan menggigil
Acapkali ada seseorang menyebut namanya
Aku terasa seperti dikeroyok
Adakah rasa sakit, haru, rindu, bahagia
Yang bisa menyatu bersama seperti ini
Engkau takkan pernah bisa merebut hati kekasih
Kecuali dengan menjadi gila

Melodia

Hidup saya adalah jelmaan melodia, sebuah puisi Umbu Landu Paranggi. Entah kenapa puisi ini begitu menjadi saya. Setiap kejadian yang kualami seperti telah tergaris di puisi ini. Hari-hariku tak pernah berlalu tanpa ditemani melodia.

Malam ini saya sedang terngiang bait ini: “Sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa langkah ke mana saja”

Kemudian diriku mencoba mundur ke masa lalu dimana hidupku adalah pelarian dari penjara ke penjara yang diciptakan oleh pikiranku dan orang-orang sekitar. Keluarga dan masyarakatku meyakini jika sekolah umum akan sukses dan kami tak sadar membuat penjara.

Betapa banyak orang disekitar kita dipenjara oleh kata “akademik” dan “sarjana”? Yang kemudian dimonopoli oleh kekuasaan sehingga mereka menciptakan ruang (penjara) sendiri hingga orang yang tak berada di ruangan itu bukan golongan mereka.

Aku meyakini bekerja proyek miliaran pemerintah dan swasta itu menarik tapi disana justru kutemukan aneka macam kemurungan. Aku lari ke batik disana kutemukan ghibah atas nama budaya. Sembilan dari sepuluh pelaku batik yang kutemui menjelekan rivalnya. Aku sangat membenci ghibah.

Aku kini lari ke penjara tani. Mengakrabi tunas, musim, juga cuaca. Dunia adalah penjara kata Nabi, bagiku orang yang tak merasa terpenjara pasti ada yang salah dengan hidupnya.

Kini usiaku 30 tahun, jika umurku 60 misalnya maka aku telah menjalani separuh perjalanan. Kedepan, aku tak ingin punya teman kecuali hanya tanaman. Kutinggal dan kutanggalkan segala alat komunikasi agar tidak bertemu manusia. Sebab salah satu spesies di bumi yang tidak kusukai perangainya adalah manusia. Mereka manipulatif dan destruktif. Termasuk mengubah biodiversitas menjadi monokultur. Kita harus mengobati bumi yang sakit dengan polykultur atas nama memenuhi kebutuhan tapi ujungnya impor juga.

Dan bagiku keramaian itu menyakitkan, sunyilah sebenar-benar masa depan…

Puisi: Satu

Aku mengenalmu
Meski engkau berganti rupa
Dan ribuan nama

Jejak langkahmu selalu kuhapal
Di atas semua tanah
Di segala udara setiap musim

Engkau adalah debar jantung
Yang mengisi hari-hariku
Meski tak kasat mata orang

Engkau satu yang menyatukan
Menjadi satu kesatuan
Menyatu padu haruku

(2018)

Fragmen

Puisi-puisiku kusimpan rapat di dalam tanah. Engkau tak bisa memaksa seseorang membuat puisi atau bahkan membacakannya karena kau tak tahu betapa mungkin berharganya kata-kata dalam dirinya. Aku sendiri tak berani membaca puisiku sendiri karena itu seperti mantra pengundang hujan. Musim hujan akan beranjak tiba di matamu.

Terakhir kali aku membacanya karena dipaksa kawanku di sebuah warung pada kurun 2013 aku berhenti dan tidak kuat. Kata-kata adalah jembatan kepada jiwa. Dengan kata-kata, banyak para penyair menjadi kekasih Tuhan. Aku kagum pada kitab-kitab para ulama kuno, kata-katanya telah dihapal turun temurun dan menembus waktu ribuan tahun.

Puisi adalah kehidupan dan kehidupan adalah puisi. Aku ingat sekali pesan dari kesunyian: “Orang yang tidak bergetar membaca puisinya sendiri takkan mungkin bergetar membaca ayat-ayat Tuhannya”. Bukan hatimu yang mati, tetapi kekasih yang enggan tinggal disana.