Jeda

Saya menggilai kecepatan dalam kendaraan maupun praktek kehidupan termasuk bagaimana berpikir dan mengambil keputusan. Pernah kupacu motor honda Tiger di Pemalang sampai diatas 120kmph. Begitu pula dalam menyetir mobil. Disekitarmu terlihat orang-orang menjadi lambat dan menyebalkan. Saya membayangkan para ulama atau ilmuwan yang pemikirannya sangat cepat dan progresif pasti penuh menahan emosi dan sabare pol menghadapi manusia-manusia yang jahiliyyah dalam berlogika.

Hari ini saya nyambung kereta dari Lempuyangan ke Tegal via jalur selatan Purwokerto. Kereta Joglokerto dari Jogja ini sampai ke Purwokerto pukul 10.08 dan nyambung Kamandaka ke Tegal pukul 10.25. Bayangkan jeda dari kereta satu ke kereta dua hanya 17 menit dan tentu saja kecepatan dan kegesitan sangat dibutuhkan. Turun dan keluar stasiun dengan berlarian dan ngeprint tiket 10 menit. Sisa waktunya tentu hanya 7 menit.

Saya pun terbelalak ketika antrian masuk sangat panjang. Seolah dihadapkan pada kenyataan ketinggalan kereta atau akan berhadapan dengan teguran pedas menyerobot antrian. Saya pilih nomor dua. Seorang mahasiswi yang kelihatannya suka pulang pas weekend menegur saya untuk antri. Saya berikan penjelasan panjang lebar dan kelihatannya kepalanya terbuat dari batu kali. Akhirnya saya mengantri di belakangnya.

“Asuuuu…” aku pun misuh tanpa obyek pisuhan guna membuang energi negatif.
Saya ingat tanggal 2 Desember 2017 saya berada di posisi mahasiswi itu di stasiun Jatinegara dan segera mempersilakan orang yang buru-buru di mesin antrian. Sebab manusia harus memiliki etika termasuk untuk antri tapi juga harus punya kesadaran welas asih. Semua segera saya lupakan ketika kereta hampir meloncat dan untung saya sempat di dalamnya.

Pesan Pernikahan

Pernikahan adalah ibadah. Ibadah yang pensyariatannya telah dimulai sejak manusia pertama Nabiyullah Adam as. dengan Siti Hawa. Allah sendiri yang menjadi wali Siti Hawa dalam pernikahan pertama manusia ini. Setiap Nabi dan Rasul juga diperintah oleh Allah Ta’ala untuk menikah bahkan, Nabi Isa ‘alaihissalam kelak akan kembali turun ke bumi untuk melakukan pernikahan. Syariat pernikahan lalu disempurnakan melalui risalah yang dibawa Rasulullah Muhammad dan terus langgeng hingga di surga.
Pernikahan menjadi contoh suatu ibadah yang mengandung dua unsur sekaligus, dari lahir hingga batin, sejak dunia hingga akhirat. Dengan demikian, berbeda dengan ibadah lain, legitimasi syariat tidak mengenal tanggal kadaluarsa. Usianya bahkan lebih panjang daripada usia sejarah manusia di muka bumi.
Terdapat begitu banyak petunjuk ilahiah dan nabawiyah bagi kita untuk memahami bahwa islam meletakkan pernikahan sebagai sesuatu yang sangat mulia dan sakral. Dengan menikah seseorang berusaha menyempurnakan separuh agamanya. Seorang yang hendak mengucap akad nikah mesti menata niat bahwa dia akan menjalani ibadah. Alqur’an memberi tuntunan bahwa pernikahan merupakan “mitsaqan ghalizha”, ikatan yang amat sangat kuat.
Al Imam al Bulqini sampai menyatakan dalam at Tadrib; “Tak ada akad penghambaan atau ibadah yang membandingi akad pernikahan setelah akad keimanan.” Ada sebagian pihak yang menganggap pernikahan sebatas penyaluran naluri seksual manusia. Pandangan semacam ini kurang tepat karena pernikahan merupakan jalan yang ditempuh manusia, bukan binatang. Binatang tak perlu akad, saksi, wali dan seterusnya, karena memang binatang tak perlu akal dan syariat untuk menjalani hidupnya. Menilai pernikahan secara hewani tentu keliru karena merendahkan martabat manusia dan kemanusiaan.
Usahakanlah, setiap pernikahan menjadi pernikahan yang langgeng sampai di akhirat. Nantinya, orang-orang yang bahagia di surga adalah mereka yang memiliki istri di dunia dan dibawa ke akhirat. “Mereka bersama pasangan-pasangan mereka bernaung di tempat yang teduh.” – QS. Ya Sin, 56.
(KH. Maimoen Zubair)

Puisi Yang Hidup

Barangkali ketika tak lagi ada puisi
Kekasih akan senantiasa mewakilinya
Dari kata yang mulai pudar menghindar
Undur diri sadar batas dan kefanaan
Sebab hanya dialah puisi yang hidup
Dan bertahan sepanjang kisah perjalanan
Sementara aku adalah kebisuan penyimaknya
Atau bibir yang akan terkatup karena takjub
Oleh baitnya yang menghujam teramat dalam
Membuncahlah mata air di dalam hati
Mengaliri jiwaku yang rapuh dan gersang
(2017)

Pertemuan

Anak muda dekil itu sangat gelisah, menunggu motornya diservis. Antriannya hari senin ini sangatlah panjang tidak seperti biasanya. Teknisi bengkel dengan lincah membongkar karburator yang penuh dengan kotoran. Rupanya sudah lama motor itu terabaikan dan tak terawat.
Hari telah menjelang siang. Jam telah menunjukan pukul 13.20. Perutnya yang keroncongan dan panasnya musim kemarau menambah gundah gelisah saja. Anak muda itu sudah tidak bersabar. Berkali-kali dia mendekati teknisi dan mencoba merayu agar dikerjakan lebih cepat. Tetapi gagal, sebab karbu motor tuanya punya struktur yang kompleks.
Dia pun menuju ruang tunggu dan terduduk di bangku besi panjang dengan setengah cemberut. Tanpa memperhatikan sebelumnya, ternyata disebelahnya duduk pak Tua yang sedang memegang tasbih. Rupanya saat beranjak dari kursi Pak Tua datang antri untuk menyervis motornya juga. Mulutnya komat-kamit dan tatapannya kosong nan teduh. Pak Tua tersenyum pada anak muda itu dan secara reflek dia membalasnya dengan rasa tidak enak karena menghormati yang lebih berumur.
“Servis apa nak?”
“Ee.. karburator pak, agak mbrebet. Bapak servis apa?”
“Lampu nak, rupanya kalau malam kurang begitu terang. Tinggal dimana nak?”
“Saya di jalan Wayang pak, bapak dimana?”
“Saya jalan burung nak. Kuliah atau kerja nak? merokok nak? Ini saya ada kretek” Pak Tua menyodorkan lintingan kretek kepada anak muda tersebut tapi ditolaknya dengan halus sebab ternyata dia bukan perokok. obrolan mereka pun makin hangat dan intens
“Saya semester 5 Pak di Universitas Nirwana”
“Jurusan apa?”
“Teknik elektronika. Kalau bapak kerja dimanakah?”
Sebelum menjawab, Pak Tua itu menyesap asap rokok dalam-dalam seperti menarik klise memori lamanya yang telah jauh terpendam
“Saya berganti profesi tiap lima tahun sekali nak”
“Lho? Maksudnya gimana pak?”
Pak tua itu menatap anak muda itu seolah dia adalah anaknya
“Iya nak, tiap lima tahun sekali pekerjaan saya berubah. Misalnya pada awal kerja di tahun 2007 sambil kuliah, profesi saya adalah guru privat. Tahun 2012 saya menggeluti bidang garmen, tahun 2017 sendiri saya membuka warung makan. Tahun 2022 saya kemudian menjadi seorang petani lalu tahun 2027 menjadi peternak. Tahun 2032 sampai hari ini saya jadi penulis saja dirumah”
Anak muda itu terperangah setengah merasa aneh dan setengahnya lagi kagum
“Wahhh, banyak pengalaman ya pak. Bapak tidak sayang meninggalkan profesi sebelumnya?”
“Tidak nak, justru saya sangat sayang jadi saya berikan profesi itu kepada orang lain. Semua sudah selesai. Saya sudah selesai dengan berbagai aneka bentuk koridor waktu. Sekarang usia saya sudah kepala lima, sudah saatnya khusyuk kepada yang bikin koridor itu”
Anak muda itu terhenyak. Dia merasa bertemu dengan dirinya sendiri kelak.

Akhlak of Negative

Akhlak marah terhadap orang karena benar:
1. Marah tingkat ringan: diam, berbaring
2. Marah tingkat berat: ambil wudhu, hendaknya sholat sunnah, jika bisa membaca Alqur’an
3. Marah ekstrim: uzlah sebagaimana nabi, kira-kira 25-40 hari
4. Menerima permintaan maaf dengan ridha bila perlu sebelum diminta
5. Menasehati dengan baik-baik jika dibutuhkan (harus di waktu yang tepat ketika mood yang baik)
6. Tidak mengambil keputusan apapun dikala emosi
7. Nabi marah hanya karena hak agama dilanggar, bukan karena faktor diri sendiri / individu

Akhlak dimarahi oleh siapapun:
1. Menyimak marah orang lain tanpa memotongnya, tanyakan apa kesalahannya
2. Mengalah meski benar itu lebih baik terhadap orang yang emosi
3. Merendahkan hati sembari meminta maaf jika terdapat kesalahan, jika dia orang baik pasti mau memaafkan
4. Menerima nasehat dan kebenaran meskipun itu tidak disukai

Akhlak tidak cocok dengan orang lain:
1. Jangan pernah menunjukan ketidakcocokan dengan orang lain karena itu adalah boomerang bagimu
2. Baiknya ketidakcocokan itu disimpan dan tidak diumbar pada orang lain karena suatu saat bisa menjadi malapetaka bila ada pihak yang ’ember’ atau adu domba
2. Berbuat baiklah kepadanya meskipun ia tidak baik kepadamu karena orang baik adalah orang yang berbuat baik bagi orang lain

Akhlak berkelahi:
1. Dalam posisi mempertahankan keselamatan diri (defend)
2. Tidak menyerang terlebih dahulu (first attack)
3. Menyerang di bagian yang tidak fatal (point of weakness) atau hanya melakukan kuncian agar jera

Sebaik Baik Manusia

Sabda Rasulullah SAW:

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni). Dengan memahami kandungan hadits ini maka kita akan mengubah semua definisi kebaikan menuju output orang lain sebagai sesama manusia dengan cara hidup untuk orang lain dengan syarat sudah selesai dengan dirinya sendiri dan ma’rifat kepada hadits ini.

Misalnya:

  • Orang baik adalah orang yang berbuat baik untuk orang lain
  • Orang hebat adalah orang yang bisa membuat hebat orang lain
  • Orang terhormat adalah orang yang paling menghormati orang lain
  • Orang kaya adalah orang yang paling kaya pemberiannya untuk orang lain

Dan seterusnya…

Akhlak Guru Kami

Saat itu hujan sangat lebat dan pengajian sesi pertama telah usai. Guru kami bersiap menaiki becak yang dikayuh santrinya melewati tengah garasi mobil-mobil dari rumah kayu. Saat itu banyak santri yang berteduh disitu dan duduk melantai paving block. Tiba-tiba beliau menyetop dan menyuruh becaknya berbalik arah agar tidak mengganggu dan melewati orang-orang yang duduk berteduh. Beliau memilih memutar arah dan lewat jalan lainnya.

Sama ketika sesi guru kedua datang. Beliau yang terbiasa melewati jalan tengah garasi pun memutar arah ke kiri yang lebih kosong. Padahal beliau sedang kehujanan dan hanya dipayungi dari belakang motor. Sebenarnya bisa saja kedua guru kami menyuruh mereka bangkit dan minggir tetapi rasa cinta dan menghargai kepada orang ngaji barangkali menjadi dasar yang sama untuk akhlak ini.

Akhlak itu spontanitas, tidak dirancang dan tidak dipikir panjang terlebih dahulu. Saya terenyuh. Teringat pesan beliau: “Saya mencintai kalian secara penuh!”

Kita?

Gerilya

Saya sedang bergerilya. Sembunyi di tempat yang tak bisa diprediksi musuh dan kemudian menyerang sekuat-kuatnya ketika musuh sedang lengah. Saya pernah mendengar serangan mematikan adalah ketika musuh sedang merasa dingin dan damai. Adalah konyol jika saya tampil di depan dan memoles diri supaya punya citra yang baik. Sebab beberapa sniper mengincar saya, musuh-musuh menguntit saya untuk memprediksi taktik saya dan menjegal langkah menuju kemerdekaan. Karena saya begitu mengancam eksistensi dan kenyamanan mereka.

“Hidup takkan pernah aman, selalu terancam bahaya” Pesan Umbu Landu Paranggi, mahaguru sastra yang kini bermukim di Bali. Bahaya besarmu tidak datang dari musuh tetapi justru akan datang dari teman sendiri, mungkin keluarga sendiri atau bahkan dirimu sendiri. Menggigit lidah dan mengunci lisan adalah jalan buat selamat di dunia akhir jaman yang serba materi ini. Dengan menjaga lisan engkau telah menyingkirkan 1000 marabahaya dari mereka.

Sunyilah para gerilyawan…