Pendidikanku, Generasiku, dan Aku

Kalau seandainya dulu saya sekolah diberi kurikulum yang nggak barlen (bubar klalen/lupa) maka saya akan menjadi generasi yang cerdas. Sayangnya saya dulu diberi matematika dari SD hingga kuliah semester awal seolah-olah menteri pendidikan punya harapan kepada saya untuk menjadi seperti Rene Descartes atau minimal Leibniz. Padahal matematika  yang saya butuhkan simpel: matematika untuk ngitung duit, ngitung dagangan, ngitung-ngitung yang jelas-jelas saja. Kok malah kalau nggak pinter matematika saya dituduh bodoh, malas belajar, banyak bermain. Gimana ini? Padahal saya pernah ikut lomba matematika dulu di SD dan juara kecamatan, cuman saya bosan saja dan nggak ada tujuan jelas akhirnya jadi males. Ini bentuk pemberontakan saya. Lanjut membaca

Bagaimana Perasaan Dirimu?

Bagaimana perasaan dirimu jika dianggap menjadi dirimu tapi anggapan itu sendiri bukan dirimu? Orang lain dan orang-orang di dekatmu telah banyak menilai tapi ternyata salah. Dirimu bukan apa yang mereka lihat, mereka dengar, mereka jumpa. Dirimu tersembunyi dalam lubuk paling dalam yang sebenarnya tidak ada seorangpun yang bisa menjangkaunya? Lanjut membaca

Ongkos dari Cinta itu Berteman dan Nyedulur

Saya pernah mendengar salah satu cita-cita sahabat saya adalah sangat aneh di jaman sekarang. Di jaman yang mengagungkan prestasi, prestise, dan gengsi yang formalnya disebut harta, wanita, tahta, justru teman saya ini lebih memilih cita-cita untuk bertemu dengan sebanyak mungkin orang. Dia ingin belajar dari banyak orang, masyarakat dan rakyat adalah gurunya, dia ingin menghilangkan diri sendiri dalam eksistensi egoismenya. Lanjut membaca

Metafor Telat

Dulu ada orang bilang kalau sesuatu yang diinginkan atau dikonsumsi tidak pada waktunya seperti bayi yang diberi nasi. Seharusnya bayi harus diberi semacam bubur dulu kemudian diberi nasi pada umur-umur tertentu artinya ada waktu yang tepat untuk dia makan nasi. Seandainya bayi dikasih nasi, kemungkinan yang terjadi dia akan keselek atau bahkan akan wafat. Lanjut membaca

Dongeng Ngaco Anak Babi dan Komodo

Dahulu kala ada babi kecil yang bersahabat dgan komodo. Mereka sekolah bersama di PAUD dan TK Harapan Jaya. Hari itu babi kecil membawa robot robotan yang baru dibelikan sama emak babi. Terus komodo pengen minjem. “Babi, pinjem donk!” mintanya. Babi kecil yang sedikit autis pun gak minjemin robot-robotan ke komodo karena itu mainannya. Lanjut membaca

Ternyata Kami Lebih Beruntung

Jika ada orang yang mentalak satu istrinya kemudian ia digugat istrinya dengan tuduhan palsu dan rekayasa: tidak memberi nafkah, tukang tampar padahal ini tidak benar dan dianggap benar oleh pengadilan. Setelah banding hampir delapan kali ia tetap dicerai dan disahkan talak satunya tentunya seolah-olah direkayasa agar menjadi talak tiga, kepada siapa ia mesti menggugat? KUA-kah? Pengadilan-kah? Polisi? Kesra? Pemda?

Jika ada orang yang anaknya sedang bermain di sawah. Anaknya tidak mengerti apa itu perceraian, kemudian di pematang sawah mendadak anaknya dipanggil ibunya dan dibawa ke mertuanya tanpa sepengetahuan orang itu. Dia berkata “Ini tidak sopan”. Kepada siapa ia harus menulis dan menceritakan kesedihan ini. Koran lokal? Media cetak? Posting blog? Atau jurnal ilmiah? Lanjut membaca

Metal, Sekali Lagi

Bukankah saya sangat keren seumpama saya kelihatan sedang menenteng ESP Fx, Ibanez Iceman, Gibson Les Paul, atau Caparison Delinger di bandara menuju ke Belanda dulu kemudian ke Jerman Utara menuju Wacken Fest. Di dalam box yang saya bawa terdapat berbagai efek seperti Hughes Tubeman, MXR, Elextroharmonics, dan berbagai kapasitas canggih untuk guitarsounding. Saya akan menjadi salah satu personil band tamu di Wacken Open. Saya adalah satu-satunya gitaris metal di Indonesia yang membuat band di Belanda kemudian band saya sukses karena punya orisinalitas. Lanjut membaca